Laporan Praktikum Audio Dan Radio (Penguat Daya Audio)
Fakultas Teknik UNP Padang
|
Nama :Rahkmad jaini
|
Jurusan : Teknik Elektronika
|
Nim : 1203061
|
Prodi : Pendidikan Teknik Elektronika
|
Group :4E2
|
Praktikum ke : 4
|
Mata kuliah : Praktikum Audio Radio
|
Topic : Audio
|
Judul : Penguat Daya Audio
|
A.TUJUAN
1. Mampu merakit
rangkaian Power Amplifier (Penguat daya suara dengan IC.
2. Mengetahui fungsi
rangkaian penguat daya pada sistem audio
3. Mengetahui
karakteristik kerja rangkaian penguat daya pada sistem audio.
4. Mampu melihat respon
frekuensi dan penguatan yang dapat dilakukan oleh rangkaian penguat daya.
B. ALAT DAN BAHAN
1. Trainer Audio 1 Set
8. IC LA4440
= 1 buah
2. Osiloskop Dual Beam 1
set 9. C1 47 µF/10V
= 1 buah
3. Multimeter 1 set
10.C3 100
µF/10V
= 1 buah
4. AFG 1
set
C. TEORI DASAR
Pada rangkaian audio seringkali sinyal
audio yang diproses harus diperbesar level dayanya sampai mencapai suatu besar
tertentu untuk menggerakkan loudspeaker yang berukuran besar dan berdaya besar
sehingga telinga mampu mendengarkan suara yang dihasilkan oleh loudspeaker dan
bahkan membuat pendengaran terganggu. Untuk Melakukan hal ini diperlukan rangkaian
penguat (amplifier) yang didalamnya terdapat komponen tertentu yang mampu
melakukan penguatan frekuensi audio. Seperti transistor bipolar, transistor
efek medan (FET), tabung katoda, bahkan menggunakan rangkaian terpadu (IC).
Audio Amplifier adalah sebuah alat yang berfungsi memperkuat sinyal
audio dari sumber-sumber sinyal yang masih kecil sehingga dapat menggetarkan
membran speaker dengan level tertentu sesuai kebutuhan.
1. Input Sinyal
Input sinyal dapat berasal dari beberapa
sumber, antara lain dari CD/DVD Player, Tape, Radio AM/FM, Microphone, MP3
Player, Ipod, dll. Masing-masing sumber sinyal tersebut mempunyai karakteristik
yang berbeda-beda. Bagian Input sinyal harus mempu mengadaptasi sinyal sinyal
tersebut sehingga sama pada saat dimasukkan ke penguat awal/ penguat depan
(pre-amp)
2. Penguat Awal/Penguat Depan
(Pre-amp)
Penguat depan berfungsi sebagai
penyangga dan penyesuai level dari masing-masing sinyal input sebelum
dimasukkan ke pengatur nada. Hal ini bertujuan agar saat proses pengaturan nada
tidak terjadi kesalahan karena pembebanan/loading. Penguat depan harus
mempunyai karakteristik penyangga/buffer dan berdesah rendah.
3. Pengatur Nada (Tone Control)
Pengatur nada bertujuan menyamakan
(equalize) suara yang dihasilkan pada speaker agar sesuai dengan aslinya
(Hi-Fi). Pengatur nada minimal mempunyai pengaturan untuk nada rendah dan nada
tinggi. Selain itu ada juga jenis pengatur nada yang mempunyai banyak kanal
pengaturan pada frekuensi tertentu yang biasa disebut dengan Rangkaian Equalizer.
Prinsip dasar pengaturan nada diperoleh dengan mengatur nilai R/C resonator
pada rangkaian filter.
4. Penguat Akhir (Power Amplifier)
Penguat Akhir adalah rangkaian penguat
daya yang bertujuan memperkuat sinyal dari pengatur nada agar bisa menggetarkan
membran speaker. Penguat akhir biasanya menggunakan konfigurasi penguat kelas B
atau kelas AB. Syarat utama sebuah penguat akhir adalah impedansi output yang
rendah antara 4-16 ohm) dan efisiensi yang tinggi.
Karena kerja dari penguat akhir sangat
berat maka biasanya akan timbul panas dan dibutuhkan sebuah plat pendingin
untuk mencegah kerusakan komponen transistor penguat akhir karena terlalu
panas.
5. Speaker
Speaker berfungsi mengubah sinyal
listrik menjadi sinyal suara. Semakin besar daya sebuah speaker biasanya
semakin besar pula bentuk fisiknya. Secara umum speaker terbagi menjadi tiga,
yaitu Woofer (bass), Squaker (middle), dan tweeter (high). Impedansi speaker
antara 4 ohm, 8 ohm dan 16 ohm.
Saat ini ada juga speaker yang disebut dengan
subwoofer, yaitu speaker yang mampu mereproduksi sinyal audio dengan frekuensi
yang sangat rendah dibawah woofer.
Rangkaian penguat audio yang baik yaitu rangkaian yang mampu
memperkuat sinyal pada range frekuensi audio yaitu frekuensi 20Hz sampai 20 KHz
dan pada saat melakukan penguatan tanpa terjadinya cacat dengan nois yang
sekecil mungkin.
Pada rangkaian penguat pada suatu sistem
audio, rangkaian terdiri dari beberapa bagian antara lain rangkaian penguat
awal yang dikenal dengan rangkaian pre-amp, rangkaian filtter (tune control)
dan rangkaian penguat akhir (power amplifier) yang akan menggerakkan speaker
yang akan menghasilkan suara sehingga bisa didengarkan oleh telinga.
D. LANGKAH KERJA
1. Melengkapi peralatan,
bahan pratikum yang akan digunakan, dan memeriksa terlebih dahulu peralatan,
komponen apakah dalam keadaan baik dan dalam keadaan bekerja.
2. Merakit rangkaian
penguat audio pada trainer (education trainer kit) dengan skema rangkaian
sperti pada gambar di bawah (rangkaian mono), kemudian menghidupkan rangkaian
sehingg mmenghasilkan suara pada speaker dengan suara yang jelas dan tanpa
cacat.
3. Melepaskan hubungan
input rangkaian amplifier (input terbuka) dari rangkaian lainnya sehigga output
amplifier pada loudspeaker tidak mengeluarkan suara.
4. Menghubungkan AFG
praada bagian input rangkaian amplifier dan menghubungkan chanel 1 osiloskop
dan output pada chanel 2 pada osiloskop(tanpa rangkaian input).
5. Mengatur input AFG
pada posisi 1 kHz dengan amplitudo sebesar 100mVp-p, hitunglah tegangan output
yang dihasilkan.
6. Mengatur amplitudo
sinyal input AFG pada posisi minimum dan melihat sinyal output yang terbaca
lalu mengatur amplitudo sinyal input(AFG) sehingga menghasilkan signal output
yang tidak cacat, hitung besaran penguatan maksimum dari amplifier trainer
kemudian hitung besar penguatan dari rangkaian.
7. Gunakan sumber audio
lain lalu pasang potensio meter 1000kΩ pada input power yang diatur pada posisi
minimum dan melakukan perubahan pada pengaturan volume pada posisi minimum,
tengah dan maksimum lalu menggambarkan bentuk dari tiga keadaan tersebut.
E. HASIL PENGAMATAN
1. Tegangan output
yang dihasilkan pada posisi 1 kHz dengan amplitudo 100mVp-p
F = 1kHz
· Input = 20 Mv
· Output = 1,4 x 5
= 7 Vp-p
· AV
= VO/VI
= 7/0,02
= 350 Vp-p
· Beda fasa = 45 ͦ
2. Sinyal output ketika
sinyal input(AFG) pada posisi minimum
F
= 1kHz
· Output
= 0 Vp-p
· Input
= 16 Mv
· Vo
= 1,2 x 5
= 6 Vp-p
· AV
= VO/VI
= 6/0,016
= 375Vp-p
= 20 log
VO/VI
= 20 log 375
= 20 x 2,5
= 50 dB
3. Gambar bentuk dari ketiga keadaan
F. EVALUASI DAN PENUGASAN
1. yang terjadi pada saat
posisi volume rangkaian amplifier pada posisi maksimum adalah Sinyal output
yang dihasilkan akan semakain besar atau Vo akan semakin besar ini terlihat
pada hasil pratikum langkah 7.
2. Fungsi rangkaian tone
control pada sistem audio adalah untuk mengatur nada rendah (Bass) dan
nada tinggi (Treble) secara terpisah. Pada bagian pengatur nada Bass,
menguatkan sinyal frekuensi rendah, sedangkan pada bagian nada treble
menguatkan sinyal frekuensi tinggi.
3. Fungsi equalizer
adalah untuk menyamakan suara speaker mendekati sumber aslinya atau
mengembalikan suara speaker seperti suara aslinya.
4. Fungsi pre-amp adalah
meng-ampli atau menguatkan sinyal dari low level ke line level. Jadi sinyal
yang keluar dari transducer masuk ke rangkaian preamp, dalam rangkaian tersebut
memproses sinyal elektronik yang masuk, diolah ke level-level tertentu yang
kemudian di teruskan kedalam rangkaian ampli induk.
5. Power amplifier
berfungsi untuk sebagai penguat sinyal audio yang pada dasarnya merupakan
penguat tegangan dan arus dari sinyal audio yang bertujuan untuk menggerakan
pengeras suara (loud speaker).
6. Fungsi
speaker adalah mengubah gelombang listrik menjadi getaran suara.
Proses pengubahan gelombang listrik / elektromagnet menjadi gelombang suara
terjadi karena adanya aliran listrik arus AC audio dari penguat audio kedalam
kumparan yang menghasilkan gaya magnet sehingga akan menggerakkan membran, Kuat
lemahnya arus listrik yang diterima, akan mempengaruhi getaran pada membran,
bergetarnya membran ini menghasilkan gelombang bunyi yang dapat kita dengar.
G. KESIMPULAN
1. Fungsi rangkaian
penguat daya adalah untuk memproses sinyal audio dimana sinyal audio yang
diproses harus diperbesar level dayanya sampai mencapai suatu besar tertentu
untuk menggerakkan loudspeaker yang berukuran besar dan berdaya besar sehingga
telinga mampu mendengarkan suara yang dihasilkan oleh loudspeaker dan bahkan
membuat pendengaran terganggu.
2. Tone kontrol pada
sistem audio berfungsi untuk mengatur penguatan level nada bass dan level
nada treble. Nada bass adalah sinyal audio pada frekuensi rendah sedangkan nada
treble merupakan sinyal audio pada frekuensi tinggi.
3. Rangkaian penguat
audio yang baik yaitu rangkaian yang mampu memperkuat sinyal pada range
frekuensi audio yaitu frekuensi 20Hz sampai 20 KHz dan pada saat melakukan
penguatan tanpa terjadinya cacat dengan nois yang sekecil mungkin.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar